Sejarah Kerajaan
Mataram Kuno, Dinasti Beserta Raja Nya
a. Berdirinya
Kerajaan Mataram Kuno
Pada abad ke-8 di
pedalaman Jawa
Tengah
berdiri Kerajaan Mataram Hindu. Pendirinya adalah Raja Sanjaya. Munculnya
Kerajaan Mataram diterangkan dalam Carita Parahyangan. Kisahnya adalah dahulu
ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Galuh.
Rajanya bernama
Sanna (Sena). Suatu ketika, ia diserang oleh saudaranya yang menghendaki
takhta. Raja Sanna meninggal dalam peristiwa tersebut, sementara saudara perempuannya,
Sannaha, bersama keluarga raja yang lainnya berhasil melarikan diri ke lereng Gunung Merapi.
Anak Sannaha, Sanjaya, di kemudian
hari mendirikan Kerajaan Mataram dengan ibu kota Medang ri Poh Pitu. Tepatnya
pada tahun 717 M.
b. Bukti-bukti
sejarah Kerajaan Mataram Kuno
Bukti lain
mengenai keberadaan Kerajaan Mataram Hindu atau sering juga disebut
Mataram Kuno adalah prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya.
Prasasti ini
berangka tahun Cruti Indria Rasa atau 654 Saka (1 Saka sama dengan 78
Masehi, berarti 654 Saka sama dengan 732 M), hurufnya Pallawa, bahasanya
Sanskerta, dan letaknya di Gunung Wukir, sebelah selatan Muntilan.
Isinya adalah
pada tahun tersebut Sanjaya mendirikan lingga di Bukit Stirangga untuk
keselamatan rakyatnya dan pemujaan terhadap Syiwa, Brahma, dan Wisnu, di
daerah suci Kunjarakunja. Menurut para ahli sejarah, yang dimaksud Bukit
Stirangga adalah Gunung Wukir dan yang dimaksud Kunjarakunja adalah Sleman
(kunjara = gajah = leman; kunja = hutan). Lingga adalah simbol yang
menggambarkan kekuasaan, kekuatan, pemerintahan, lakilaki, dan dewa Syiwa.
c. Pemerintahan
wangsa Sanjaya
Raja-raja wangsa
Sanjaya, seperti dimuat dalam prasasti Mantyasih (Kedu), sebagai berikut.
1)
Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (717 – 746 M)
Raja
ini adalah pendiri Kerajaan Mataram sekaligus pendiri wangsa
Sanjaya. Setelah wafat, ia digantikan oleh Rakai Panangkaran.
2)
Sri Maharaja Rakai
Panangkaran (746 – 784 M)
Dalam
prasasti Kalasan (778 M) diceritakan bahwa Rakai Panangkaran (yang dipersamakan
dengan Panamkaran Pancapana) mendirikan candi Kalasan untuk memuja Dewi
Tara, istri Bodhisatwa Gautama, dan candi Sari untuk dijadikan wihara bagi
umat Buddha atas permintaan Raja Wisnu dari dinasti Syailendra.
Ini menunjukkan
bahwa pada masa pemerintahan raja ini datanglah dinasti
Syailendra dipimpin rajanya, Bhanu (yang kemudian digantikan Wisnu), dan
menyerang wangsa Sanjaya hingga melarikan diri ke Dieng, Wonosobo. Selain
itu, Raja Panangkaran juga dipaksa mengubah kepercayaannya dari Hindu ke
Buddha. Adapun penerus wangsa Sanjaya setelah Panangkaran tetap beragama
Hindu.
3) Sri Maharaja
Rakai Panunggalan (784 – 803 M)
4)
Sri Maharaja Rakai Warak (803 – 827 M)
Dua
raja ini tidak memiliki peran yang berarti, mungkin karena kurang cakap dalam
memerintah sehingga dimanfaatkan oleh dinasti Syailendra untuk
berkuasa atas Mataram. Setelah Raja Warak turun takhta sebenarnya sempat
digantikan seorang raja wanita, yaitu Dyah Gula (827 – 828 M), namun karena
kedudukannya hanya bersifat sementara maka jarang ada sumber sejarah yang
mengungkap peranannya atas Mataram Hindu.
5)
Sri Maharaja Rakai Garung (828 – 847 M)
Raja
ini beristana di Dieng, Wonosobo. Ia mengeluarkan prasasti Pengging (819
M) di mana nama Garung disamakan dengan Patapan Puplar (mengenai Patapan
Puplar diceritakan dalam prasasti Karang Tengah – Gondosuli).
6)
Sri Maharaja Rakai Pikatan (847 – 855 M)
Raja
Pikatan berusaha keras mengangkat kembali kejayaan wangsa Sanjaya dalam
masa pemerintahannya. Ia menggunakan nama Kumbhayoni dan
Jatiningrat (Agastya). Beberapa sumber sejarah yang menyebutkan nama
Pikatan sebagai berikut.
a) Prasasti
Perot, berangka tahun 850 M, menyebutkan bahwa Pikatan adalah raja yang
sebelumnya bergelar Patapan.
b) Prasasti
Argopuro yang dikeluarkan Kayuwangi pada tahun 864 M.
c) Tulisan pada
sebelah kanan dan kiri pintu masuk candi Plaosan menyebutkan nama Sri
Maharaja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan.
Diduga tulisan
tersebut merupakan catatan perkawinan antara Rakai Pikatan dan Sri
Kahulunan. Sri Kahulunan diduga adalah Pramodhawardhani, putri
Samaratungga, dari dinasti Syailendra. Mengenai pernikahan mereka
dikisahkan kembali dalam prasasti Karang Tengah.
Rakai Pikatan
sendiri mengeluarkan tiga prasasti berikut.
1) Prasasti
Pereng (862 M), isinya mengenai penghormatan kepada Syiwa dan
penghormatan
kepada Kumbhayoni.
2) Prasasti Code
D 28, berangka tahun Wulung Gunung Sang Wiku atau 778 Saka (856 M). Isinya
adalah
(1) Jatiningrat
(Pikatan) menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Lokapala (Kayuwangi dalam
prasasti Kedu);
(2) Pikatan
mendirikan bangunan Syiwalaya (candi Syiwa), yang dimaksud adalah candi
Prambanan;
(3) kisah
peperangan antara Walaputra (Balaputradewa) melawan Jatiningrat (Pikatan)
di mana Walaputra kalah dan lari ke Ungaran (Ratu Boko).
3) Prasasti Ratu
Boko, berisi kisah pendirian tiga lingga sebagai tanda kemenangan.
Ketiga lingga
yang dimaksud adalah Krttivasa Lingga (Syiwa sebagai petapa berpakaian
kulit harimau), Tryambaka Lingga (Syiwa menghancurkan benteng Tripura yang
dibuat raksasa), dan Hara Lingga (Syiwa sebagai dewa tertinggi atau paling
berkuasa).
Sebagai raja,
Pikatan berusaha menguasai seluruh Jawa Tengah, namun harus menghadapi
wangsa Syailendra yang saat itu menjadi penguasa Mataram Buddha. Untuk
itu, Pikatan menggunakan taktik menikahi Pramodhawardhani,
putri Samaratungga, Raja Mataram dari dinasti Syailendra. Pernikahan ini
memicu peperangan dengan Balaputradewa yang merasa berhak atas tahta
Mataram sebagai putra Samaratungga. Balaputradewa kalah dan Rakai Pikatan
menyatukan kembali kekuasaan Mataram di Jawa Tengah.
7)
Sri Maharaja Kayuwangi (855 – 885 M)
Nama
lain Sri Maharaja Kayuwangi adalah Lokapala. Ia mengeluarkan, antara lain,
tiga prasasti berikut.
a) Prasasti
Ngabean (879 M), ditemukan dekat Magelang. Prasasti ini terbuat
dari tembaga.
b) Prasasti
Surabaya, menyebutkan gelar Sajanotsawattungga untuk Kayuwangi.
c) Prasasti
Argopuro (863 M), menyebutkan Rakai Pikatan pu Manuku berdampingan dengan
nama Kayuwangi.
Dalam
pemerintahannya, Kayuwangi dibantu oleh dewan penasihat merangkap staf
pelaksana yang terdiri atas lima orang patih. Dewan penasihat ini
diketuai seorang mahapatih.
8)
Sri Maharaja Watuhumalang (894 – 898 M)
Masa
pemerintahan Kayuwangi dan penerus-penerusnya sampai masa pemerintahan
Dyah Balitung dipenuhi peperangan perebutan kekuasaan. Itu
sebabnya, setelah Kayuwangi turun takhta, penggantinya tidak ada yang
bertahan lama.
Di antara
raja-raja yang memerintah antara masa Kayuwangi dan Dyah Balitung
yang tercatat dalam prasasti Kedu adalah Sri Maharaja Watuhumalang.
Raja-raja sebelumnya, yaitu Dyah Taguras (885 M), Dyah Derendra (885 – 887
M), dan Rakai Gurunwangi (887 M) tidak tercatat dalam prasasti tersebut
mungkin karena masa pemerintahannya terlalu singkat atau karena Balitung
sendiri tidak mau mengakui kekuasaan mereka.
9)
Sri Maharaja Watukura Dyah Balitung (898 – 913 M)
Raja
ini dikenal sebagai raja Mataram yang terbesar. Ialah yang berhasil
mempersatukan kembali Mataram dan memperluas kekuasaan dari Jawa
Tengah sampai ke Jawa Timur. Dyah Balitung menggunakan beberapa nama:
a) Balitung
Uttunggadewa (tercantum dalam prasasti Penampihan),
b) Rakai
Watukura Dyah Balitung (tercantum dalam kitab Negarakertagama),
c) Dharmodaya
Mahacambhu (tercantum dalam prasasti Kedu), dan
d) Rakai Galuh
atau Rakai Halu (tercantum dalam prasasti Surabaya).
Prasasti-prasasti
yang penting dari Balitung sebagai berikut.
a) Prasasti
Penampihan di Kediri (898 M).
b) Prasasti
Wonogiri (903 M).
c) Prasasti
Mantyasih di Kedu (907 M).
d) Prasasti
Djedung di Surabaya (910 M).
Sebenarnya,
Balitung bukan pewaris takhta Kerajaan Mataram. Ia dapat naik takhta
karena kegagahberaniannya dan karena perkawinannya dengan putri
Raja Mataram. Selama masa pemerintahannya, Balitung sangat
memerhatikan kesejahteraan rakyat, terutama dalam hal mata pencaharian,
yaitu bercocok tanam, sehingga rakyat sangat menghormatinya.
Tiga jabatan
penting yang berlaku pada masa pemerintahan Balitung adalah Rakryan i Hino
(pejabat tertinggi di bawah raja), Rakryan i Halu, dan Rakryan i Sirikan.
Ketiga jabatan itu merupakan tritunggal dan terus dipakai hingga
zaman Kerajaan Majapahit.
Balitung
digantikan oleh Sri Maharaja Daksa dan diteruskan oleh Sri
Maharaja Tulodhong dan Sri Maharaja Wana. Namun, ketiga raja ini sangat
lemah sehingga berakhirlah kekuasaan dinasti Sanjaya.
d. Pemerintahan
dinasti Syailendra
Ketika Mataram
diperintah oleh Panangkaran (wangsa Sanjaya), datanglah dinasti Syailendra
ke Jawa. Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul dinasti Syailendra ini. Dr.
Majumdar, Nilakanta Sastri, dan Ir. Moens berpendapat bahwa dinasti
Syailendra berasal dari India. Adapun Coedes berpendapat bahwa dinasti
Syailendra berasal dari Funan.
Dinasti ini lalu
berhasil mendesak wangsa Sanjaya menyingkir ke Pegunungan Dieng, Wonosobo,
di wilayah Jawa Tengah bagian utara. Di sanalah wangsa Sanjaya kemudian
memerintah. Sementara itu, dinasti Syailendra mendirikan Kerajaan
Syailendra (Mataram Buddha) di wilayah sekitar Yogyakarta dan menguasai
Jawa Tengah bagian selatan.
Sumber-sumber
sejarah mengenai keberadaan dinasti Syailendra sebagai berikut.
1) Prasasti
Kalasan (778 M)
2) Prasasti
Kelurak (782 M)
3) Prasasti Ratu
Boko (856 M)
4) Prasasti
Nalanda (860 M)
Raja-raja
dinasti Syailendra sebagai berikut.
1) Bhanu (752 –
775 M)
Bhanu berarti
matahari. Ia adalah raja Syailendra yang pertama. Namanya disebutkan dalam
prasasti yang ditemukan di Plumpungan (752 M), dekat Salatiga.
2) Wisnu (775 –
782 M)
Nama Wisnu
disebutkan dalam beberapa prasasti.
a)
Prasasti
Ligor B menyebutkan nama Wisnu yang dipersamakan dengan matahari, bulan,
dan dewa Kama. Disebutkan pula gelar yang diberikan kepada Wisnu, yaitu
Syailendravamsaprabhunigadata
Sri Maharaja, artinya pembunuh musuh yang gagah berani.
b) Prasasti
Kalasan (778 M) menyebutkan desakan dinasti Syailendra
terhadap Panangkaran.
c) Prasasti Ratu
Boko (778 M) menyebutkan nama Raja Dharmatunggasraya.
3) Indra (782 –
812 M)
Raja Indra
mengeluarkan prasasti Kelurak (782 M) yang menyebutkan pendirian patung
Boddhisatwa Manjusri, yang mencakup Triratna (candi Lumbung),
Vajradhatu (candi Sewu), dan Trimurti (candi Roro Jongrang). Setelah
wafat, Raja Indra dimakamkan di candi Pawon. Nama lain candi ini adalah
candi Brajanala atau Wrajanala. Wrajanala artinya petir yang menjadi senjata
dewa Indra.
4) Samaratungga
(812 – 832 M)
Raja ini adalah
raja terakhir keturunan Syailendra yang memerintah di Mataram. Ia
mengeluarkan prasasti Karang Tengah yang berangka tahun Rasa
Segara Krtidhasa atau 746 Saka (824 M). Dalam prasasti tersebut disebutkan
nama Samaratungga dan putrinya, Pramodhawardhani. Disebutkan pula
mengenai pendirian bangunan Jimalaya (candi Prambanan) oleh
Pramodhawardhani.
Nama
Samaratungga juga disebutkan dalam prasasti Nalanda (860 M)
yang menceritakan pendirian biara di Nalanda pada masa pemerintahan
Raja Dewapaladewa (Kerajaan Pala, India). Pada masa pemerintahannya,
Samaratungga membangun candi Borobudur yang merupakan candi besar agama
Buddha. Samaratungga kemudian digantikan oleh Rakai Pikatan, suami
Pramodhawardhani yang berasal dari wangsa Sanjaya. Kembalilah kekuasaan
wangsa Sanjaya atas Mataram Kuno sepenuhnya.
e. Kehidupan
ekonomi Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram
Kuno merupakan negara agraris yang bersifat tertutup. Akibatnya, kerajaan
ini sulit berkembang secara ekonomi, terutama karena segi perdagangan dan
pelayaran sangat kering. Kejayaan baru diperoleh pada masa pemerintahan
Balitung. Ia membangun pusat perdagangan seperti disebutkan dalam prasasti
Purworejo (900 M). Dalam prasasti Wonogiri (903 M) diterangkan bahwa desa-desa
yang terletak di kanan-kiri Sungai Bengawan Solo dibebaskan dari
pajak dengan syarat penduduk desa tersebut harus menjamin kelancaran
hubungan lalu lintas melalui sungai.
f. Kehidupan
kebudayaan Kerajaan Mataram Kuno
Ketika wangsa
Sanjaya menyingkir ke Pegunungan Dieng sejak masa Panangkaran hingga Rakai
Pikatan, banyak didirikan candi yang kini dikenal sebagai kompleks
candi Dieng. Kompleks candi ini, antara lain, terdiri atas candi Bimo,
Puntadewa, Arjuna, dan Nakula. Adapun di Jawa Tengah bagian selatan
ditemukan candi Prambanan (Roro Jonggrang), Sambi Sari, Ratu Boko, dan
Gedung Songo (Ungaran) sebagai hasil budaya Mataram Kuno.
Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (
Bahasa Jawa:
Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, lahir:
Kutagede,
Kesultanan Mataram,
1593 - wafat:
Karta (Plered, Bantul),
Kesultanan Mataram,
1645) adalah Sultan
ke-tiga
Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun
1613-
1645. Di bawah
kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di
Jawa dan
Nusantara
pada saat itu.
Atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung telah
ditetapkan menjadi
pahlawan nasional Indonesia berdasarkan
S.K. Presiden No.
106/TK/1975 tanggal
3 November 1975.
Silsilah keluarga
Nama aslinya adalah
Raden Mas Jatmika, atau terkenal
pula dengan sebutan
Raden Mas Rangsang. Merupakan
putra dari pasangan
Prabu Hanyakrawati dan
Ratu Mas Adi Dyah
Banawati. Ayahnya adalah raja kedua
Mataram,
sedangkan ibunya adalah putri
Pangeran
Benawa raja
Pajang.
Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra
Pangeran
Purbaya (kakak Prabu Hanyakrawati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya
menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah
Banawati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat
Jawa yang kebenarannya
perlu untuk dibuktikan.
Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang
permaisuri utama. Yang menjadi
Ratu Kulon adalah putri
sultan Cirebon,
melahirkan Raden Mas Syahwawrat atau "Pangeran Alit". Sedangkan yang
menjadi
Ratu Wetan adalah putri
Adipati Batang (cucu
Ki
Juru Martani) yang melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi
Amangkurat
I).
Gelar yang Dipakai
Pada awal pemerintahannya, Raden Mas Rangsang bergelar "
Panembahan
Hanyakrakusuma" atau "
Prabu Pandita Hanyakrakusuma".
Kemudian setelah menaklukkan
Madura tahun
1624, ia mengganti
gelarnya menjadi "
Susuhunan Agung Hanyakrakusuma", atau
disingkat "
Sunan Agung Hanyakrakusuma".
Setelah 1640-an beliau menggunakan gelar "
Sultan Agung
Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman". Pada tahun
1641 Sunan Agung
mendapatkan gelar bernuansa
Arab. Gelar tersebut adalah "
Sultan Abdullah
Muhammad Maulana Mataram", yang diperolehnya dari pemimpin
Ka'bah di
Makkah,
Untuk mudahnya, nama yang dipakai dalam artikel ini adalah nama yang paling
lazim dan populer, yaitu "
Sultan Agung".
Awal pemerintahan
Raden Mas Rangsang naik takhta pada tahun
1613 dalam usia 20
tahun menggantikan adiknya(beda ibu),
Adipati
Martapura, yang hanya menjadi Sultan Mataram selama satu hari. Sebenarnya
secara teknis Raden Mas Rangsang adalah Sultan ke-empat Kesultanan Mataram,
namun secara umum dianggap sebagai Sultan ke-tiga karena adiknya yang menderita
tuna
grahita diangkat hanya sebagai pemenuhan janji ayahnya, Panembahan
Hanyakrawati kepada istrinya,
Ratu Tulungayu. Setelah
pengangkatannya menjadi sultan, dua tahun kemudian, patih senior
Ki
Juru Martani wafat karena usia tua, dan kedudukannya digantikan oleh
Tumenggung Singaranu.
Ibu kota
Mataram
saat itu masih berada di
Kota Gede. Pada tahun
1614 mulai dibangun
istana baru di desa
Karta,
sekitar 5 km di sebelah barat daya Kota Gede, yang kelak mulai ditempati pada
tahun
1618.
Saingan besar Mataram saat itu tetap
Surabaya dan
Banten. Pada tahun
1614 Sultan Agung mengirim pasukan menaklukkan sekutu
Surabaya,
yaitu
Lumajang.
Dalam perang di Sungai Andaka, Tumenggung Surantani dari Mataram tewas oleh
Panji
Pulangjiwa menantu Rangga Tohjiwa bupati
Malang. Lalu Panji
Pulangjiwa sendiri mati terjebak perangkap yang dipasang Tumenggung Alap-Alap.
Pada tahun
1615
Sultan Agung memimpin langsung penaklukan Wirasaba ibukota Majapahit (sekarang
Mojoagung, Jombang). Pihak Surabaya mencoba
membalas. Adipati
Pajang
juga berniat mengkhianati Mataram namun masih ragu-ragu untuk mengirim pasukan
membantu Surabaya. Akibatnya, pasukan Surabaya dapat dihancurkan pihak Mataram
pada
Januari 1616 di desa
Siwalan.
Kemenangan Sultan Agung berlanjut di
Lasem
dan
Pasuruan
tahun 1616. Kemudian pada tahun
1617 Pajang memberontak tapi dapat ditumpas. Adipati dan
panglimanya (bernama Ki Tambakbaya) melarikan diri ke Surabaya.
Menaklukkan Surabaya
Pada tahun
1620
pasukan Mataram mulai mengepung kota
Surabaya secara
periodik.
Sungai
Mas dibendung untuk menghentikan suplai air, namun kota ini tetap mampu
bertahan.
Sultan Agung kemudian mengirim
Tumenggung Bahureksa
(bupati
Kendal)
untuk menaklukkan
Sukadana (
Kalimantan
sebelah barat daya) tahun
1622. Dikirim pula
Ki Juru Kiting (putra
Ki
Juru Martani) untuk menaklukkan
Madura
tahun
1624. Pulau
Madura yang semula terdiri atas banyak kadipaten kemudian disatukan di bawah
pimpinan
Pangeran Prasena yang
bergelar
Cakraningrat I.
Dengan direbutnya Sukadana dan Madura, posisi Surabaya menjadi lemah, karena
suplai pangan terputus sama sekali. Kota ini akhirnya jatuh karena kelaparan
pada tahun
1625,
bukan karena pertempuran. Pemimpinnya yang bernama
Pangeran Jayalengkara
pun menyerah pada pihak Mataram yang dipimpin
Tumenggung
Mangun-oneng.
Beberapa waktu kemudian, Jayalengkara meninggal karena usia tua. Sementara
putranya yang bernama
Pangeran Pekik diasingkan ke
Ampel. Surabaya pun
resmi menjadi bawahan Mataram, dengan dipimpin oleh
Tumenggung Sepanjang
sebagai bupati.
Pasca penaklukan
Surabaya
Setelah penaklukan
Surabaya, keadaan
Mataram belum
juga tentram. Rakyat menderita akibat perang yang berkepanjangan. Sejak tahun
1625-
1627 terjadi wabah
penyakit melanda di berbagai daerah, yang menewaskan dua per tiga jumlah
penduduknya.
Pada tahun
1627
terjadi pula pemberontakan
Pati yang dipimpin oleh
Adipati
Pragola, sepupu Sultan Agung sendiri. Pemberontakan ini akhirnya dapat ditumpas
namun dengan biaya yang sangat mahal.
Hubungan dengan VOC
Pada tahun
1614 VOC (yang saat itu masih
bermarkas di
Ambon)
mengirim duta untuk mengajak Sultan Agung bekerja sama namun ditolak
mentah-mentah. Pada tahun
1618 Mataram dilanda gagal panen akibat
perang yang
berlarut-larut melawan
Surabaya. Meskipun demikian, Sultan Agung tetap menolak
bekerja sama dengan
VOC.
Pada tahun
1619
VOC berhasil merebut
Jayakarta di bagian Barat pulau Jawa yang belum ditaklukkan
Mataram, dan mengganti namanya menjadi
Batavia. Markas
mereka pun dipindah ke kota itu. Menyadari kekuatan bangsa
Belanda tersebut,
Sultan Agung mulai berpikir untuk memanfaatkan VOC dalam persaingan menghadapi
Surabaya dan
Banten.
Maka pada tahun
1621
Mataram mulai menjalin hubungan dengan VOC. Kedua pihak saling mengirim
duta besar.
Akan tetapi, VOC ternyata menolak membantu saat Mataram menyerang Surabaya.
Akibatnya, hubungan diplomatik kedua pihak pun putus.
Menyerbu Batavia
"Serangan Besar di Batavia oleh Sultan Mataram" pada tahun 1628 (cetakan
setelah 1680).[1]
[2]
Sasaran
Mataram
berikutnya setelah
Surabaya jatuh adalah
Banten yang ada di
ujung Barat pulau Jawa. Akan tetapi posisi
Batavia yang
menjadi penghalang perlu diatasi terlebih dahulu oleh Mataram.
Bulan
April 1628 Kyai Rangga bupati
Tegal dikirim sebagai
duta ke Batavia untuk menyampaikan tawaran damai dengan syarat-syarat tertentu
dari Mataram. Tawaran tersebut ditolak pihak
VOC sehingga Sultan Agung
memutuskan untuk menyatakan perang.
Maka, pada
27 Agustus 1628 pasukan Mataram dipimpin
Tumenggung Bahureksa,
bupati
Kendal
tiba di Batavia. Pasukan kedua tiba bulan
Oktober dipimpin
Pangeran Mandurareja
(cucu
Ki Juru Martani). Total semuanya adalah 10.000
prajurit. Perang besar terjadi di benteng Holandia. Pasukan Mataram mengalami
kehancuran karena kurang perbekalan. Menanggapi kekalahan ini Sultan Agung
bertindak tegas, pada bulan
Desember 1628 ia mengirim
algojo untuk menghukum mati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran
Mandurareja. Pihak VOC menemukan 744 mayat orang
Jawa berserakan dan
sebagian tanpa kepala.
Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya pada tahun
berikutnya. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur berangkat pada bulan
Mei 1629, sedangkan pasukan
kedua dipimpin Adipati Juminah berangkat bulan
Juni. Total semua
14.000 orang prajurit. Kegagalan serangan pertama diantisipasi dengan cara
mendirikan lumbung-lumbung beras di
Karawang dan
Cirebon. Namun
pihak VOC berhasil memusnahkan semuanya.
Walaupun kembali mengalami kekalahan, serangan kedua Sultan Agung berhasil
membendung dan mengotori
Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan timbulnya wabah
penyakit
kolera
melanda Batavia.
Gubernur jenderal VOC yaitu
J.P. Coen
meninggal menjadi korban wabah tersebut.
Setelah kekalahan di
Batavia
Sultan Agung pantang menyerah dalam perseteruannya dengan
VOC Belanda. Ia
mencoba menjalin hubungan dengan pasukan
Kerajaan
Portugis untuk bersama-sama menghancurkan VOC. Namun hubungan kemudian
diputus tahun
1635
karena ia menyadari posisi Portugis saat itu sudah lemah.
Kekalahan di
Batavia
menyebabkan daerah-daerah bawahan Mataram berani memberontak untuk merdeka.
Diawali dengan pemberontakan para ulama
Tembayat yang berhasil ditumpas
pada tahun
1630.
Kemudian
Sumedang
dan
Ukur memberontak tahun
1631.
Sultan Cirebon yang
masih setia berhasil memadamkan pemberontakan Sumedang tahun
1632.
Pemberontakan-pemberontakan masih berlanjut dengan munculnya pemberontakan
Giri
Kedaton yang tidak mau tunduk kepada Mataram. Karena pasukan Mataram merasa
segan menyerbu pasukan Giri Kedaton yang masih mereka anggap keturunan
Sunan Giri,
maka yang ditugasi melakukan penumpasan adalah
Pangeran
Pekik pemimpin
Ampel.
Pangeran Pekik sendiri telah dinikahkan dengan
Ratu Pandansari adik Sultan
Agung pada tahun
1633.
Pemberontakan Giri Kedaton ini berhasil dipadamkan pasangan suami istri
tersebut pada tahun
1636.
Akhir kekuasaan
Wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram
dalam masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645)
Pada tahun
1636
Sultan Agung mengirim
Pangeran Selarong
(saudara seayah Sultan Agung, putra
Panembahan Hanyakrawati dan selir
Lung Ayu dari
Panaraga) untuk
menaklukkan
Blambangan
di ujung timur
Pulau Jawa. Meskipun mendapat bantuan dari
Bali, negeri Blambangan
tetap dapat dikalahkan pada tahun
1640.
Dalam masa Sultan Agung, seluruh Pulau Jawa sempat tunduk dalam kekuasaan
Kesultanan Mataram, kecuali
Batavia yang
masih diduduki militer
VOC
Belanda.
Sedangkan desa
Banten
telah berasimilasi melalui peleburan kebudayaan. Wilayah luar Jawa yang
berhasil ditundukkan adalah
Palembang di
Sumatra tahun
1636 dan
Sukadana di
Kalimantan tahun
1622. Sultan Agung juga
menjalin hubungan diplomatik dengan
Makassar,
negeri terkuat di
Sulawesi saat itu.
Sultan Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar yang tidak
hanya dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan, namun melalui
kebudayaan
rakyat yang adiluhung dan mengenalkan sistem-sistem
pertanian.
Negeri-negeri
pelabuhan
dan
perdagangan
seperti
Surabaya
dan
Tuban
dimatikan, sehingga kehidupan rakyat hanya bergantung pada sektor pertanian.
Sultan Agung menaruh perhatian besar pada kebudayaan Mataram. Ia memadukan
Kalender
Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan
Kalender
Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya
Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan
rakyat Mataram. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah
berbau mistik, berjudul
Sastra Gending.
Di lingkungan keraton Mataram, Sultan Agung menetapkan pemakaian
bahasa
bagongan yang harus dipakai oleh para bangsawan dan pejabat demi untuk
menghilangkan kesenjangan satu sama lain. Bahasa ini digunakan supaya tercipta
rasa persatuan di antara penghuni istana.
Sementara itu
Bahasa Sunda juga mengalami perubahan sejak Mataram
menguasai
Jawa
Barat. Hal ini ditandai dengan terciptanya bahasa halus dan bahasa sangat
halus yang sebelumnya hanya dikenal di
Jawa Tengah.
Wafatnya Sultan Agung
Menjelang tahun
1645
Sultan Agung merasa ajalnya sudah dekat. Ia pun membangun
Astana
Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja
Kesultanan Mataram mulai dari dirinya. Ia juga
menuliskan serat
Sastra Gending sebagai
tuntunan hidup
trah
Mataram.
Sesuai dengan wasiatnya, Sultan Agung yang meninggal dunia tahun
1645 digantikan oleh
putranya yang bernama Raden Mas Sayidin sebagai raja Mataram selanjutnya,
bergelar
Amangkurat I.
Proses
Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Negara Barat
Pada pertengahan abad ke-15
perubahan politik, ekonomi, sosial terjadi di negara-negara Eropa dan Asia
Barat. Hal ini mengakibatkan bangsa-bangsa Eropa keluar dari wilayahnya untuk
mencari wilayah baru yang dirasa lebih menguntungkan.
Tujuan kedatangan orang-orang Eropa
ke dunia Timur
Menguasai perdagangan rempah-rempah langsung
dari sumbernya.
Menguasai wilayah strategis baik untuk perdagangan maupun basis militer.
Menguasai sebanyak mungkin kekayaan sumber daya suatu wilayah.
Turut campur dalam urusan politis suatu wilayah.
TERBENTUKNYA KOLONIALISME DAN
IMPERIALISME BARAT DI BERBAGAI DAERAH
Kolonialisme
Adalah penguasaan suatu negara atas
negara lain atau wilayah lain dengan maksud memperluas wilayah negara itu.
Imperialisme
Adalah sistem politik yang bertujuan
menguasai negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan mencari keuntungan yang
lebih besar.
Negara-negara Eropa yang mempunyai
andalan dalam pembentukan dan mengembangkan kolonialisme dan imperialisme di
Indonesia yaitu : Portugis, Belanda, Perancis dan Inggris.
1. Kolonilisme dan imperialisme
Portugis di Indonesia
Portugis merupakan negara Eropa
pertama yang datang di dunia Timur melalui jalan laut. Hal ini dapat dilihat
dari :
Tahun 1486 Bartholomeus Dias
berhasil mencapai Tanjung Harapan.
Tahun 1498 Vasco da Gama menginjakkan kaki di Calicut.
Tahun 1502 Alfonso d’Albuquerque menguasai pelabuhan Malaka. Merupakan langkah
awal mengusai wilayah perdagangan dan pelayaran di Asia Tenggara.
Imperialisme Portugis adalah imperialisme kuno (ancient imperialisme) dengan
semboyan 3G, yaitu Gold (emas), Gospel (agama), dan Glory (Kejayaan). Dalam
proses perluasan kekuasaan, bangsa Portugis banyak mendapat perlawanan bangsa
Indonesia. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
Pertugis menjalankan sistem monopoli.
Portugis menyebarkan agama Katholik.
Portugis ikut campur tangan urusan dalam negeri.
Banyak pejabat Portugis yang melakukan korupsi.
Persaingan dengan bangsa Barat sendiri
Portugis menguasai Malaka, perdagangan Indonesia beralih ke Aceh. Minat
Portugis menguasai melalui Aceh, tapi mendapat perlawanan oleh rakyat Aceh.
Kemudian Portugis pergi ke Maluku Utara, saat itu terjadi peperangan antara
Ternate + Portugis melawan Tidore + Spanyol yang dimenangkan oleh Ternate yang
dibantu oleh bangsa Portugis.
Datanglah Spanyol yang dipimpin oleh
Ferdinand Magelans (1519 – 1521) ke Filipina. Kemudian tahun 1521 Spanyol
menduduki Maluku Utara dan bergabung dengan Tidore untuk mengimbangi Ternate
dan Portugis.
Karena Spanyol dan Tidore telah
kalan atas Portugis dan Ternate, maka muncullah perjanjian “Dessilas” yang
intinya (1534) ekspedisi Spanyol hanya diijinkan sampai Maluku Utara, sedangkan
penjelajahan Indonesia hanya boleh dilakukan Portugis. Pada tahun 1515 Portugis
berhasil diusir oleh rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Baabullah.
2. Kolonialisme dan imperialisme
Belanda di Indonesia mulai dari ekspedisi untuk kapal dagang Belanda
Ekspedisi I dipimpin oleh Cornelist
Van de Houfmant (1596) gagal, sebab mendapat perlawanan dari rakyat pesisir
utara. Ekspedisi II pimpinan Jacob Van Heck, 2 tahu kemudian (1598) Banten
berhasil sebab kedatangan Belanda dengan ramah, sopan terhadap rakyat Banten.
Pada saat bersamaan Banten melawan Portugis dimanfaatkan oleh Belanda untuk
menjalin kerjasama di bidang perdagangan. Setelah Belanda berhasil mendapatkan
keuntungan besar, mereka pulang ke negeri asal dengan membawa hasil.
VOC merupakan perhimpunan dagang
swasta Belanda. Kongsi ini mempunyai kewajiban membantu pemerintah Belanda
untuk mendapatkan dana. Sebaliknya pemerintah Indonesia perlu memberikan VOC
hak-hak istimewa. Hak Actrroi (hak paten) yaitu :
- Hak monopoli perdagangan
- Hak memiliki angkatan perang
berperang
Tujuan didirikannya VOC adalah :
Menghilangkan persaingan yang akan
merugikan para pedagang Belanda.
Menyatukan tenaga untuk menghadapi saingan dari bangsa Portugis dan
pedagang-pedagang lainnya di Indonesia.
Mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.
Langkah pertama VOC untuk mencapai tujuanya adalah :
Merebut Maluku dari tangan Portugis
Tahun 1605 VOC berhasil merebut
benteng Portugis di Ambon yang kemudian sampai rentang Victoria. Peristiwa ini
menjadi tonggak penjajahan Belanda di Indonesia.
Tahun 1609 VOC mengangkat Pieter Both sebagai Gubernur Jendral I sampai
mengikat perjanjian dengan penguasa di Maluku seperti : Hitu, Banda dan Haruku.
Dan selalu mencantumkan hak monopoli perdagangan VOC dan pengakuan VOC terhadap
kedaulatan pengusaha-pengusaha setempat.
VOC mengikat Jayakarta dengan usaha mendirikan pusat kekuasaan dan pemerintahan
di wilayah itu. Di bawah pimpinan Jan Peter Zoon Coen. Jayakarta diserang dan
dibakar kemudian pada tahun 1619 berubah menjadi kota baru Batavia.
Mulai saat itu VOC dapat menghargai segala gerak-gerik pelayaran di Selat Sunda
dan Selat Malaka. VOC juga semakin konsolidasi dalam upaya menaklukkan seluruh
wilayah Indonesia.
Kekuatan VOC di Mataram
- Pada pemerintahan Sultan Agung
(1613 – 1645)
Berkeinginan untuk menyatukan
daerah-daerah di pulau Jawa tetapi dihalangi oleh VOC di Batavia. Tahun 1628
serangan I dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso.
- Tahun 1629 Mataram melakukan
serangan II berhasil merebut benteng Holandia.
- Sultan Agung wafat diganti oleh
Sultan Amangkurat I (1645 – 1677)
Lemah dan kejam terhadap rakyat,
lebih condong dan bersahabat dengan VOC. Mendapat perlawanan dari bupati Madura
Trunojoyo, Amangkurat I terdesak kemudian putranya Adipati Anom meminta bantuan
VOC. Perlawanan tidak seimbang, Trunojoyo berhasil ditangkap dan tewas di
tangan Amangkurat II (1679) di Kediri.
- Selama Mataram di bawah kekuasaan
VOC, banyak perlawanan bermunculan termasuk dari Untung Suropati yang tidak
tega melihat bangsanya diperlakukan sewenang-wenang.
- Tahun 1703 Amangkurat II wafat
diganti putranya Sunan Mas (Amangkurat III).
Tidak diakui kekuasannya oleh VOC
karena VOC lebih suka Pangeran Puger yang kemudian berhasil merebut tahta
Mataram dan diberi gelar Pakubuwono I. Tahun 1708 Sultan Mas ditangkap dan
dibuang ke Srilangka.
- Pada pemerintahan Pakubuwono II,
campur tangan VOC semakin merugikan Mataram, muncul perlawanan dari kemenakan
dan adik Pakubuwono II, yaitu Mas Said dan Pangeran Mangkubumi dengan taktik
gerilya.
- VOC behasil dikalahkan di tepi
sungai Bogowonto. Komandan VOC Mayor De Clark terbunuh. Saat perang berlangsung
tahun 1749. Pakubuwono II wafat dan diganti Pakubuwono III.
- Perjanjian Giyanti adalah
perjanjian antara Pangeran Mangkubumi dengan VOC pada tahun 1955. isi
perjanjian tersebut antara lain :
1) Mataram Timur diberikan pada
Pakubuwono II dengan ibukota Surakarta.
2) Mataram Barat diberikan pada
pengaran Mangkubumi (Hamengku buwono I) dengan ibukota Yogyakarta.
3. Pemerintahan Hindia Belanda
Melalui konferensi London (1814)
Inggris mengembalikan emua daerah kekuasaan Belanda yang pernah dikuasai
Inggris. Sejak saat itu, Belanda kembali berkuasa di Indonesia. Kebijakan yang
dilakukan pemerintah Hindia-Belanda dalam bidang ekonomi adalah
menyelenggarakan “Sistem tanam paksa” tau Culture Stelsel (Awang Cultur) yang
berlangsung selama 40 tahun (1830 – 1870).
Sistem tanam paksa ini diusulkan
oleh Johanes Van den Bosh Gubernur Jendral Hindia-Belanda pada tahun 1830 –
1833. hakikat dari sistem tnam paksa atau cultur stelsel adalah bahwa penduduk
sebagai ganti membayar pajak tanah sekaligus, harus menyediakan sejumlah hasil
bumi yang nilainya sama dengan pajak tanah itu.
Sebab diadakan tanam paksa antara
lain :
Hutang yang ditanggung pemerintahan
Hindia-Belanda dari VOC sebanyak 136,1 jiwa (Gulden) merupakan beban berat.
Pemasukan uang kas ke negara lain dengan jalan penanaman kopi, landrete ataupun
dengan cara lain yang tidak banyak memberi hasil.
Perang jiwa (1825 – 1830) banyak memakan biaya.
Tujuan tanam paksa adalah untuk memasukkan uang ke kas negara sebagai hutang
dan dapat dibayar dan keperluan pemerintah Belanda termasuk biaya perang dapat
dicukupi.
Cara yang ditempuh ialah memaksa
penduduk menanami sebagian tanahnya dengan tanaman yang laku di pasaran Eropa,
seperti : kopi, gula, kaps, gandum, cengkih, nila, teh, tembakau, kayu manis
dan sebagainya. Biaya hasil bumi yang dipaksa untuk ditanam adalah berupa hasil
bumi yang biasanya diekspor ke pasaran Eropa, dan dari ekspor tersebut
pemerintah mengharapkan keuntungan yang besar.
Tanam paksa dilaksanakan terutama di
Jawa karena daerahnya sudah terbuka, tenaga kerja cukup dan struktur pemerintah
feodal memudahkan pelaksanaan. Di Sumatera Barat dan Sulawesi Utara juga
dilakukan tanam paksa tetapi tidak seberat di Jawa.
Ciri-ciri pemerintahan feodal di
Jawa antara lain :
Raja adalah dewa pemilik tanah atau
dunia.
Petani hanya sebagai penggarap tanah.
Hubungan antara raja dan bangsawan dengan rakyat dalam bentuk patron dan
client.
Ikatan raja dengan petani berdasarkan kepercayaan suci.
Kebudayaan kesatria (wayang) yang dipengaruhi Hindu dan Islam mirip unsur pokok
kebudayaan Jawa.
Pelaksanaan tanam paksa menimbulkan banyak reaksi, antara lain sebagai berikut
:
Tindakan menentang tanam paksa oleh
golongan penguasa swasta Belanda yang menghendaki kebebasan berusaha di
Indonesia.
Tindakan menentang tanam paksa oleh perseorangan yang memiliki jiwa
kemanusiaan, seperti :
Barron Van Hoevel seorang pendeta yang pernah tingal di Indonesia.
Edward Dovwes Dekker (1820 – 1887) pejabat Belanda yang pernah menjadi asisten
residen Lebak (Banten) dengan memasuki nama samaran “Multatuli” yang berarti
aku telah banyak menderita.